Monday, March 16, 2009

Penghargaan Pesona Pariwisata Indonesia


Saya bersyukur, beberapa waktu lalu liputan saya berjudul Wisata di Titik Kulminasi yang disiarkan Kantor Berita Radio 68H memperoleh penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam Anugerah Pesona Pariwisata Indonesia. Meski hanya juara 3 saya senang. Ini di luar ekspektasi saya.

Kalau dirunut, liputan ini memang tak diniatkan dibuat untuk dilombakan. Citra Prastuti, Editor Program Saga di 68H yang mengusulkannya. Liputan ini bercerita tentang peristiwa hilangnya bayangan matahari di sekitar Tugu Khatulistiwa yang terjadi setiap 21-23 Maret dan September. Meski di siang bolong, benda-benda tegak di sekitar Tugu mendadak kehilangan bayangan. Menurut para ahli, saat itu matahari berada tepat di garis lintang 0 derajad.

Citra berbaik hati mengirimkan liputan ini dan beberapa karya teman-teman kontributor lain dari berbagai daerah ke Depbudpar. Saya sendiri tidak pernah menaruh curiga liputan ini bakal menang hingga di suatu pagi Doddy Rosady, Korlip Daerah menelpon mengabari bahwa saya menjadi salah satu nominee dalam lomba itu. Saya gembira. Terima kasih banyak bagi yang telah membantu.

Selama menjadi kontributor 68H, banyak hal yang telah saya dapat. Setidaknya, selama satu tahun ini, telah 3 kali saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan jurnalistik.

Yang pertama pada Juli 2008 saya diundang mengikuti pelatihan pembuatan feature radio, selama 2 minggu. Ini yang jadi bekal saya untuk membuat liputan feature radio, yang meski pada prinsipnya sama dengan liputan untuk media cetak, namun secara teknis cukup berbeda.


Citra Prastuti, Editor Program Saga 68H sedang memberikan gambaran peliputan..

Kedua, yakni pelatihan Investigasi Pemilu pada November 2008. Mentor pelatihan adalah Malou, seorang wartawan senior dari Filipina yang liputannya pernah membuat Presiden Joseph Estrada terpaksa masuk bui. Pesertanya tidak hanya dari radio, namun juga cetak dan televisi. Dalam pelatihan ini masing-masing peserta harus membuat usulan liputan dan dipresentasikan pada para mentor. Usulan yang saya ajukan kebetulan dinilai sebagai usulan terbaik untuk kategori radio dan karena itu saya mendapatkan biaya liputan dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).


Di sela-sela Workshop Nasional Kontributor 68h berfoto bersama

Ketiga, pada pertengahan Februari lalu. Sebanyak 38 kontributor 68H dari seluruh Indonesia, termasuk saya, diundang untuk mengikuti workshop nasional di Jakarta. Teman saya Didik Syahputra dari Blitar yang sama-sama menjadi peserta pelatihan feature juga diundang. Sebelum berangkat, Didik mengirim pesan singkat, ”Her, semoga kita bisa ke luar negeri yah!”.

Di sela-sela workshop itu PPMN menyelenggarakan acara Indonesian Radio Award. Saya dan Didik juga mengirimkan karya. Hanya saja saya katakan pada Didik, saya tak berharap banyak akan menang, karena saya tahu liputan yang saya bikin masih belum cukup “kuat”.


Kontributor kbr68h dari berbagai daerah berfoto bersama Wimar Witular seusai penganugerahan Indonesia Radio AWard, di Jakarta Februari lalu

Dan benar, memang saya tidak menang. Didik juga tidak menang. Erna, kontri dari Palu, Tatik Yuniarti dari Bekasi, dan Korlip Daerah 68H Vivie Zabkie, yang menang. Erna mendapat hadiah magang kerja selama 1 bulan di Deutch Welle (DW) Jerman sementara Tatik ke Radio Ranesi di Belanda. Vivie Zabkie mengaku cukup senang mendapatkan sebuah laptop.


Saya dan Didik Sayahputra dari Blitar

Dengan bercanda saya katakan pada Didik, ”Mas belum rejeki kita ke luar negeri. Kalau tahun depan aja gimana mas.” Didik hanya tertawa. Meski tidak menang, saya kira saya dan Didik mendapatkan sesuatu yang lebih banyak. Pengetahuan, pertemanan, dan tentu saja jalan-jalan. Kapan lagi coba, bisa ke Jakarta tanpa modal?

”Kita harus bikin liputan yang lebih bagus, Mas.” Begitu kata saya pada Didik. Saya pulang ke Pontianak dengan tersenyum. Saya kembali bersyukur.

Friday, January 23, 2009

Tarian Barongsai




Foto oleh Bearing

Keringat di wajah Wendy belum sempat dibersihkan. Baju kaosnya juga tampak basah. Segelas air minum dengan cepat dihabiskannya. Wendy tampak kecapean. Malam itu, Wendy dan teman-temannya di Yayasan Budhi Agung baru selesai latihan. Sebentar lagi perayaan Imlek datang. Mereka harus siap-siap. Berlatih sekuat tenaga agar tarian barongsai mereka layak dipertunjukkan. Malam itu Wendy jadi koordinator latihan.

Perkumpulan barongsai tempat Wendy latihan bernama Budhi Agung yang terletak di jalan Dewi Sartika. Wendy bercerita, yayasan ini sudah berdiri sejak 1912, dan bertahan hingga sekarang. Anggotanya sudah beberapa kali ganti generasi. Dia sendiri generasi kesekian di yayasan itu. Pemain Barongsai di yayasan ini rata-rata anak muda, jumlahnya 16 orang. ”Ada yang masih SMP dan SMA, ada pula yang kuliah. Tamatan sarjana juga ada,” ujar Wendy, yang masih berusia 20 tahun ini.

Wendy sendiri sudah bermain barongsai selama 10 tahun. Seingatnya ketika pertama berlatih, dia masih duduk di kelas 5 SD. ”Waktu itu sih hanya coba-coba saja. Tapi sekarang malah kerasa asyiknya.” Wendy mengaku lebih suka pada barongsai ketimbang main game seperti yang digemari kebanyakan remaja lain.

Anggota barongsai sendiri berbagi peran. Ada yang bermain musik, ada juga yang jadi penarinya. Untuk bisa mahir bermain barongsai minimal harus berlatih selama setahun. Ini karena gerakan-gerakan barongsai cukup sulit. Mulai gerakan dasar hingga yang lanjutan. ”Yang tersulit barangkali berjalan dan melompat di atas tiang. Kalau gerakan ini tidak semua anggota bisa melakukannya. Biasanya dari sekian orang hanya beberapa saja yang terpilih,” tambah Wendy.



Untuk bisa menguasai berbagai gerakan barongsai dengan baik, menurut Wendy syaratnya harus rajin berlatih dan berani. ”Kalau latihan terus, semua pasti bisa,” Wendy memastikan.

Selain Wendy, malam itu ada juga Junanto. Untuk memainkan barongsai sendiri butuh 2 orang, satu di kepala dan lainnya di ekor. Nah untuk yang bagian ekor inilah Junanto kebagian tugas. Junanto bertubuh cukup kekar dan gerakannya lincah. Bagi pemain ekor fisik seperti ini memang diperlukan. Kalau tidak tentu dia akan sulit mengangkat penari di depannya. Selain itu tubuh pemain ekor harus lebih besar dari pemain depan. ”Ini penting, karena seringkali ada gerakan pemain ekor mengangkat pemain depan. Kalau badan pemain depan lebih besar dari saya mana kuat ngangkatnya,” ceritanya terkekeh.

Diantara sekian banyak atraksi, berjalan dan melompat di atas tiang besi adalah tantangan yang cukup berat. Mereka harus berlatih keseimbangan dan kekompakan. Sedikit kesalahan, mereka bisa saja terjatuh. ”Makanya antara pemain depan dan ekor harus kompak.” Selain itu gerakannya juga harus menyesuaikan dengan irama musiknya. Perpaduan gerak dan musik ini yang bikin tari barongsai itu indah dilihat.

Dion Valentino Tanuwijaya salah satu anggota yang masih berusia cukup muda mengaku tertarik ikut barongsai, salah satunya karena keindahan barongsai ini. Meski usianya baru 13 tahun dan masih duduk di kelas 1 SMP, Dion rajin berlatih selama satu tahun ini. Dion sudah bisa memainkan beberapa alat musik pengiring barongsai. Dion mengaku senang ikut latihan di sana. ”Saya ijin ke papa, rupanya boleh. Tapi tetap harus mengatur waktu agar nggak ganggu sekolah.”

Meski kebanyakan anggota Budi Agung adalah cowok, tapi ada juga 2 cewek yang bergabung di sana. Salah satunya adalah Suryani. Suryani adalah sarjana lulusan Widya Dharma. Banyak temannya yang tidak setuju dia berlatih barongsai. ”Soalnya keliatan nggak feminim, kata mereka.”

Tapi Suryani cuek saja. ”Aku ngelihat banyak kok sisi positifnya. Ikut barongsai itu rasanya beda banget. Saya dapat banyak pengalaman dan senang rasanya. Ini khan tradisi leluhur. Banyak anak muda yang nggak mau mempelajarinya. Kalau ini nggak diletastarikan, bisa hilang nantinya,” pungkas Suryani.[]

Tuesday, January 13, 2009

Geliat Self Publishing

Oleh Heriyanto

Belakangan ini penerbitan buku di Pontianak mulai menggeliat. Kemunculan beberapa penerbit independent atau biasa disebut self publishing di Pontianak, cukup memberi ruang bagi para penulis lokal untuk menghasilkan karya. Tentu saja ini kabar gembira, mengingat selama ini dalam penerbitan buku masih condong pada “Jawa”. Sementara nuansa “Pontianak” sendiri belum banyak digarap dan dijadikan wacana.


Di Pontianak ada beberapa self publishing yang cukup intens dalam penerbitan buku, sebut aja Pijar Publishing, Literer Khatulistiwa, dan Kitara Creativision. Meski tentu saja frekuensi penerbitannya masih kalah ketimbang kota lain yang selama ini jadi “induk” perbukuan di Indonesia, tapi semangat mereka dalam menghasilkan karya cukup menggembirakan. Beragam tema digelontorkan, mulai dari novel, antologi cerpen dan puisi hingga biography.

Maraknya penerbitan buku ini memberi harapan pada penulis lokal. Setidaknya bagi mereka yang selama ini sudah menulis dan ingin menerbitkan bukunya namun terkendala pada urusan teknis penerbitan.

Pay Jarot Sujarwo dari Pijar Publishing mengatakan, selama ini penerbitan buku masih berkiblat pada kota-kota seperti Jakarta, Bandung maupun Jogja. Sementara penerbit besar yang bersarang di kota-kota tersebut tampaknya masih enggan untuk menerbitkan karangan penulis-penulis lokal. “Sangat jarang ada penerbitan tingkat local yang secera intens menerbitkan buku. Untuk penerbitan majalan memang sudah ada, namun untuk penerbitan buku boleh dibilang sangat langka,” ujar Pay.

Atas pemikiran itu, Pay mendirikan Pijar Publishing pada 2005, sepulangnya ia dari Jogja. “Ini kegelisahan dirinya pribadi saya,” Pay berujar. “Waktu di Jogya saya pelajari, banyak teman-teman yang menulis dan menerbitkan sendiri bukunya. Ini terbukti efektif dan menghasilkan banyak karya. Saya coba terapkan itu di Pontianak.”

Menerbitkan buku pada penerbit besar memang diingikan banyak penulis. Tapi menurut Pay penulis justru sering dirugikan penerbit besar, misalnya saja pada soal royalty. “Para penulis yang punya naskah biasanya akan mencari penerbit dan menawarkan naskah tersebut. Kalau diterima, ya penulis dapat royalti dari sekian persen penjualan. Masalahnya seringkali penerbit tidak jujur berapa jumlah penjualannya. Penjualan besar dibilang kecil, itu khan merugikan penulis.”

Selain itu banyak pula naskah yang ditolak penerbit. Maka mulai 2000an mulai muncul banyak penulis yang coba menerbitkan sendiri buku-buku mereka. Yang paling banyak adalah di Jogjakarta. Buku-buku ini juga didistribusikan sendiri oleh mereka. Bila selama ini ada semacam ketergantungan bahwa menulis buku mesti pada penulis besar, hal ini kemudian mulai bergeser. Setiap orang bisa menulis dan menerbitkan sendiri buku mereka.

Penerbitan independent juga berkembang berbagai daerah. Termasuk di Pontianak yang juga dipengaruhi kondisi penerbitan di Jawa. Selain Pay Jarot Sujarwo ada juga Ahmad Sofian, salah satu penulis yang cukup intens untuk menerbitkan buku secara independent. Di bawah payung Literer Khatulistiwa, Ahmad Sovian menerbitkan berbagai buku.

Ahmad Sofian yang mengedarkan buku secara underground baik dor to dor maupun pada sahabat dan kenalannya. Meski dengan tenaga satu dua orang saja dia coba menerbitkan buku yang layak dibaca. Ada sastra, kritik sosial, hingga politik. Pay Jarot Sujarwo adalah generasi penerbit independent setelah Ahmad Sofian. Pay terkenal lewat buku Pontianak Undercover. Pay juga menulis banyak judul lain.Pay mengaku, menerbitkan buku secara inpenden ini punya kendala dalam hal pendanaan. Setidaknya bila ini menerbitkan buku mereka harus punya modal untuk mencetak buku itu.

Di Pontianak sudah ada percetakan, hanya saja secara kualitas masih jauh dari yang diharapkan. Karena itu Pay masih lebih suka mencetak buku di Jogja. “Biaya penerbitan di sana lebih murah. Hanya saja biaya transport yang masih mahal,” ungkap Pay.
Namun kendala dana ini tak membuat orang seperti Pay Jarot ini berhenti berkarya.

Menurut Pay, potensi kepenulisan di Pontianak masih sangat besar dan belum begitu optimal tergarap. Ada banyak penulis lokal yang punya bakat menulis namun belum sepenuhnya tergarap dengan baik. Dia berharap tidak hanya satu dua penerbitan saja yang ada ada di pontianak. semakin banyak orang yang peduli terhadap kondisi perbukuan di Pontianak ini akan semakin baik. Ini akan semakin memacu kecintaan orang pada buku.

Kecintaan pada buku ini akan semakin memacu kreativitas.
Tentu kita berharap kondisi penerbitan buku di Pontianak akan semakin membaik. Orang-orang seperti Pay dan kawan-kawan layak diberi penghargaan. Mereka-lah Man Of The Year sesungguhnya. (her)

Thursday, August 28, 2008

Menulis Artikel Opini

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
(Pramoedya Ananta Toer dalam Khotbah Dari Jalan Hidup)

-verba valent, scripta manent-
Bahwa kata-kata cepat hilang, tulisan abadi

Saya terngiang-ngiang dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer, tokoh besar Indonesia yang sudah wafat itu, yang pernah dibuang ke Pulau Buru selama puluhan tahun itu. Sepandai-pandai orang, kalau dia tidak menulis akan hilang dalam masyarakat, juga dalam sejarah. Hilang berarti tak eksis, dan itu bertanda nilai kemanusiaan kita dipertanyakan. Ergito ergo sum kata petuah kuno (saya berpikir maka saya ada). Lantas berpikir macam apa? Dan bagaimana orang tahu bahwa kita berpikir?

Menulis adalah tingkat keseluruhan dari berpikir itu. Anda tak akan bisa menulis tanpa berpikir. Berpikir menjadi sebuah tanda yang dengan itu eksistensi sebagai manusia menjadi ada. Namun dalam periode sejarah panjang manusia, berpikir saja tidak cukup. Manusia masih perlu menuangkan pemikirannya dalam bentuk kata, simbol-simbol, dan akhirnya abjad-abjad yang membentuk sebuah tulisan. Manusia berpikir dan kemudian menuangkan hasil pemikirannya itu ke dalam bentuk tulisan. Tulisan itu akan terus hidup. Perabadan manusia terus berjalan dan terus melanjutkan apa yang disampaikan pendahulunya lewat berbagai tulisan. Setiap waktu berganti, dan tulisan-tulisan yang dibuat kemarin atau hari ini akan menjadi sejarah bagi masa datang. Dan kini anda semua akan menjadi bagian dari sejarah, karena anda akan menulis.

Menulis secara sederhana

Dalam surat kabar tidak hanya memuat tulisan berbentuk berita, namun juga memuat tulisan opini. Tulisan opini berbeda dari berita, jika berita berlandaskan pada fakta, opini adalah hasil ide, gagasan, dan pendapat dari penulis. Penulisnya bebas untuk mengemukakan pendapat yang disertai argumen untuk meyakinkan pembaca. Jika berita perlu wawancara, penulisan opini tidak harus begitu. Tulisan opini bebas saja. Namun tulisan yang disampaikan haruslah tetap menyampaikan kebenaran.

Banyak hal bisa menjadi bahan tulisan opini. Mulai dari masalah social, politik, sampai kebudayaan. Setiap penulis memiliki pemahaman dan kemampuan yang berbeda-beda tentang suatu masalah, maka sebaiknya menulis sesuai apa yang kita pahami. Jangan memaksakan kehendak untuk menulis yang terlampu sulit dan tidak bisa kita jangkau. Menulislah dengan sederhana dan dari persoalan keseharian kita. Misalnya saja ulasan soal bagaimana menjadi guru yang baik, menulis kenaikan bahan bakar minyak yang menyengsarakan rakyat kecil, menulis tentang bencana dan lain sebagainya.

Dengan menulis yang sederhana dan mudah dipahami itu orang yang membacanya akan bisa menerima dengan nyaman. Bagi anda yang baru belajar untuk menulis opini, sering-seringlah berlatih dan membaca berbagai macam tulisan opini. Semakin sering membaca kita bisa semakin mengerti bagaimana bentuk tulisan opini yang baik. Dan tentu saja kemampuan itu perlu diasah supaya lebih mahir. Namun yang terpenting jangan pantang menyerah. Dengan usaha yang keras, setiap orang bisa menulis opini dengan baik.

Informasi

Tulisan opini yang baik harus berisi informasi yang cukup. Bila kita ingin menulis tentang kenaikan bahan bakar minyak misalnya, kita harus paham tentang tentang itu. Kita perlu menggali informasi dari orang lebih paham, bisa bertanya dengan yang punya keahlian di bidangnya. Sehingga apa yang kita tulis memang benar-benar pas dan sesuai. Dengan menguasai informasi itu kita akan lebih mudah menuangkannya ke dalam tulisan. Atau bacalah buku, artikel, atau tulisan-tulisan yang mengupas persoalan itu.

Siapa saja bisa jadi sumber informasi kamu. Mereka mungkin sebagian besarnya jarang menulis tapi punya ilmu yang banyak. Manfaatkan itu. Seraplah ilmu mereka, dan kemudian bisa kamu racik menjadi sebuah tulisan.

Penting dan Berdampak

Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Tulisan memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca.
Kita tidak hidup dalam sangkar. Kita hidup dalam dunia yang luas. Di luar sana banyak hal yang perlu kita kritisi. Tentang pendidikan yang morat marit, bangunan SD yang semakin banyak yang roboh, korupsi di dunia pendidikan, indeks prestasi manusia kalbar yang rendah. Tema itu akan menjadi hal yang sangat gurih untuk diolah. Selezat kuliner. Maknyus.

Tulisan akan lebih kuat dampaknya bagi masyarakat. Karena dia merasuk secara diam-diam. Seperti darah yang mengalir ke sekujur tubuh. Pelan. Pelan. Tapi pasti. Ketika kamu berbicara audiens kamu mungkin 1 orang, 10 orang, 20 orang, tapi akan sulit sampai ratusan. Tapi bila kau menulis dan dimuat di koran misalnya, akan ada ribuan orang yang membaca. Dan bila tulisan itu signifikan maka akan membantu mengubah keadaan.

Konteks


Sesuaikan tulisan dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Lihat sekeliling kita berbagai macam persoalan yang perlu diangkat. Adakah yang bisa kita perbaiki dan apa yang semestinya kita lakukan. Dengan mengamati sekeliling kita, kita akan tahu bahwa ada sesuatu masalah yang perlu kita perbaiki.

Kita selama ini terlalu banyak diam, dan sibuk dengan diri sendiri. Sibuk dengan kepentingan kita, sibuk dengan lingkungan sendiri. Tapi kini cobalah untuk menjadi bagian dari masyarakat luas. Kamu akan menjadi milik masyarakat. Karena kamu seorang penulis.

Sunday, August 24, 2008

emak

Rasanya tidak ada yang melebihi emak dalam mengajariku hidup dan kesederhanaan. Walaupun dengan kondisi ekonomi pas-pasan, emak mengatur ritme hidup ini dengan sewajarnya. Dia sering terlihat kecapean ketika pulang dari sawah atau ketika baru pulang dari pasar menjajakan hasil kebun, namun ia lalui itu dengan sabar. Pergi pagi, pulang sore hari. Dari wajahnya aku bisa melihat bagaimana capeknya emak.

Waktu kecil emak biasanya akan mengajakku ke ladang. Di ladang ada sebuah gubuk yang jadi tempat berteduh bila matahari kian panas menyengat. Aku suka bermain-main di gubuk itu. Bila emak sedang bekerja, aku sibuk berlari ke sana kemari mengejar belalang. Aku suka menangkap belalang yang besar untuk kemudian aku bakar untuk dimakan. Rasanya cukup enak.

Di gubuk tersedia makanan yang enak-enak yang emak bawa dari rumah. Biasanya ubi rebus, tela goreng, atau tiwul. Aku suka tiwul yang diberi parutan kelapa dan ditambah gula pasir. Seingatku makanan itu terasa enak sekali meski sangat sederhana. Barangkali karena saat itu hanya makanan itu yang ada, apalagi ditambah perut sudah lapar. Emak juga akan membawa berbagai makanan kudapan dalam rantang. Biasanya berisi nasi putih, sayur serta lauk. Di siang hari, kami memakannya bersama-sama. Meski sederhana, makanan ini sangat mengesankan. Aku selalu mengingatnya hingga kini.

Saat kecil itu aku ingat emakku sudah menanamkan nilai–nilai keagamaan. Emak memang tidak bergelar pendidikan tinggi, emak juga bukan seorang cerdik pandai dalam hal agama. Emak hanya seorang yang menjalankan agama dengan sederhana. Sangat sederhana. Waktu umurku 6 tahun emak mulai mengenalkanku hafalan surat-surat pendek. Aku kemudian mengaji Alquran kepada Mbahku di malam hari. Mbah juga mengajari soal hidup yang lurus.

Waktu kecil aku pemalu dan minder. Aku nggak berani bila jauh-jauh dari ibuku. Kemana pun ibu pergi aku akan selalu ikut. Biasanya setiap bepergian aku akan selalu menggamit tangan ibuku. Umur 7 tahun ibu mendaftarkanku sekolah dasar. Itu yang paling kutakuti. Kalau sekolah aku tentu tak bisa ikut emak ke ladang.

Pertama kali masuk sekolah seperti berada dunia yang sangat asing. Rasanya malu bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal itu. Proses adaptasiku cukup lama. Di hari-hari pertama emak masih mengantarku sekolah. Namun begitu prestasiku terus saja melejit. Aku selalu mendapatkan rangking pertama di kelas. Bahkan untuk tingkat kecamatan aku tergolong unggul. Guru-guruku bilang, aku siswa yang cerdas. Nilai ulangan matematika antara 9 dan 10. Jarang di bawah itu. Pernah juga aku mengerjakan soal betul semua. Tapi ternyata kunci jawaban soal yang salah. Aku akhirnya hanya mendapatkan nilai 9,8. Aku protes pada bu guru, tetapi tetap tak mengubah nilaiku.

Tamat SD aku melanjutkan sekolah di SMP Sui Durian- kini SMP 3 Sungai Raya. Sama seperti di sekolah dasar aku juga selalu memperoleh nilai yang memuaskan. Bahkan aku selalu juara umum. Di sana mulai jadi aktifis mushalla. Bahkan aku punya teman-teman karib yang sering diskusi masalah keagamaan. Saat itulah minat bacaku begitu tinggi. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku. Aku paling suka baca novel sufistik dan novel tentang detektif.

Tamat SMP, nilaiku cukup baik. Aku sangat ingin melanjutkan ke SMA Taruna. Sekolah ini memang menjadi idamanku, karena cukup bergengsi. Aku pun mendaftar ke sekolah tersebut. Secara akademis aku lulus. Aku lulus beberapa tahap seleksi. Namun pada tes kesehatan aku gagal.

Kecewa, tentu. Akhirnya mendaftar di sekolah lain. Pamanku mengantarku ke SMA 1 Sungai Raya. Dengan segala kekecewaan itu aku lampiaskan dengan menjadi aktivis sekolah. Aku jadi ketua Osis, Pramuka, mendirikan Paskibra, dan Remaja Masjid.
Aku cukup populer saat itu. Beruntung di SMA aku mendapatkan beasiswa sehingga bisa kutabung. Meski sibuk di organisasi aku masih tetap juara umum di sekolah. Pernah juga aku memperoleh juara 1 Olimpiade biologi tingkat kabupaten Pontianak. Aku berhasil mengalahkan SMA Taruna.

Sambil sekolah aku tetap mencari rumput untuk sapiku. Usaha ini sudah aku jalani sejak SD. Ya biasa orang kampung mesti kerja keras. Dari kecil sudah diajari untuk kerja keras dan berani untuk bertanggung jawab. Hidup mandiri membuatku mampu bertahan dari beban berat itu.

Ketika SMA Bapak mulai sakit-sakitan. Maklum sudah lumayan tua. Aku merasa bimbang. Jelas aku tak bisa mengharapkan bapak untuk terus membiayai sekolahku. Aku sering berdoa di Masjid. Aku merasa tenang sekali. Aku berdoa dan terus berdoa.

Tamat SMA sebenarnya aku ingin kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri Jawa. Tapi apa mau dikata, orangtua memang tak mampu untuk membiayai kuliahku. Aku memang punya cita-cita yang cukup tinggi tapi keterbatasan itu membuat aku mengurungkan niatku.

Untungnya, ini mungkin berkat doa ibuku, aku menerima beasiswa yang lebih dari cukup untuk membiayai kuliahku di Universitas Tanjungpura. Aku mendapatkan satu paket beasiswa dari panitia dari beberapa lembaga. Syaratnya, nilai rata-rata Matematika dan bahasa Inggrisku tidak kurang dari 7. Aku sangat bersyukur waktu itu.

Awal kuliah aku menggunakan sepeda balap. Perjalanan dari rumah ke kampus sekitar 1,5 jam. Jaraknya sekitar 20 KM meter. Memang sukup jauh. Tapi waktu itu aku benar lakukan dengan senang hati. Ngongkel sepeda bukan hal yang aneh bagiku.Dengan kondisi keuangan yang seadanya aku memang mesti bisa bertahan hidup. Aku harus mencapai apa yang aku inginkan. Dalam masa-masa sulit itu aku mesti ekstra supaya aku bisa tetap kuliah. Aku sambilan mengajar privat ke beberapa anak. Jangan tanya bagaimana aku mesti mengatur duit yang aku punya.

Di kampus aku mulai aktif di berbagai lembaga, termasuk lembaga dakwah. Semester 1 bahkan aku punya kelompok pengajian tersendiri. Aku ikut kegiatan Badan Kerohanian Mahasiswa Islam. Pernah ikut pelatihan manajemen dakwah. Bahkan sempat jadi mentor pengajian.

Suatu ketika aku melihat pengumuman penerimaan Lembaga Pers Mahasiswa Untan. Saat itu tahun 2003, coba-coba, aku mendaftar. Pikirku dalam hati, kalo bisa menulis aku akan bisa mengirim tulisan ke media massa. Awalnya aku memang tidak terlalu aktif, karena aku masih aktif di HMJ dan di dakwah. Tapi akhirnya malah keterusan

Di LPM Untan lah aku belajar banyak hal. Hingga aku tahu liku-liku yang cukup mengasikkan. Menulis, turun ke jalan, aktifitas di gerakan, diskusi, dan sebagainya. Di aktivitas gerakkan aku intens di Jaringan Mahasiswa Kalimantan Barat. Sementara untuk menyambung hidup aku bekerja di beberapa media. Ya bekerja sambilan agar bisa mendapatkan pendapatan buat kuliah dan hal-hal lain. Seperti yang terus dilakukan emak, dia bekerja dengan sabar, aku pun ingin bekerja dengan sabar dan berharap akan mendapatkan hal yang terbaik.

Kini emak semakin tua. Namun dia masih tetap bekerja keras. Aku merasa belum bisa memberikan apa-apa untuknya. Emak bilang pengin lihat aku dapat pendamping hidup yang baik dan solehah. Ini yang paling berat untuk diwujudkan. Tapi kuharap suatu ketika bisa mewujudkan keinginan emak ini. Kuingin membahagiakan emak.

Semoga saja
Amin...
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(sapardi joko damono)

Thursday, August 21, 2008

Belajar dari Kenekatan: Catatan Kecil Pelatihan di KBR68H

Oleh Heriyanto

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan pembuatan feature di Kantor Berita Radio 68H di daerah Utan Kayu Jakarta Timur. Saya termasuk salah satu dari empat kontributor daerah yang diundang kbr68h yakni Didik Syahputra dari Blitar, Rony Rahmata dari Padang, dan seorang lagi Saiful Bahri asal Aceh. Saya sendiri dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Pelatihan ini berlangsung selama 2 minggu penuh, yakni mulai 29 Juni hingga 13 Juli 2008. Bagi saya, ini pelatihan yang mengasyikkan sekaligus melelahkan. Mengasyikkan karena saya dapat banyak pengalaman baru. Melelahkan karena, bayangkan saja, para peserta hanya diberi jatah sehari untuk teori, selanjutnya turun langsung ke lapangan dan membuat laporan. Kami masing-masing mendapatkan tugas membuat 2 buah feature yang menarik. Temanya boleh beragam.


Saya (kedua dari kiri) bersama teman-teman di kbr68h sedang mengerjakan feature.

Terus terang bagi saya ini tugas yang paling memusingkan. Bagaimana tidak, dalam waktu setengah hari saya harus mencari tema menarik. Apalagi ini di Jakarta. Kota yang belum begitu saya kenal, kecuali lewat televisi dan surat kabar.

Saya masih beruntung bisa menemukan satu tema yang bisa saya presentasikan pada Doddy Rosadi mentor pelatihan ini. Teman saya, Roni Rahmata dari padang sampai hari ketiga masih juga belum mendapatkan tema yang tepat. Beberapa kali tema yang ia ajukan ditolak oleh Doddy. Rony sempat patah arang. “Susah cari tema yang tepat. Yang kuanggap tema bagus dan menarik, ternyata malah dianggap tidak layak,” keluh Rony.


Salah satu studio kbr68h yang dipakai untuk menyiarkan berita ke seluruh Indonesia

Pada awalnya saya mengusulkan tema krisis air yang dialami Jakarta. Usul ini diterima Doddy. Katanya tema ini layak siar. Tapi kemudian saya batalkan usulan ini. Saya merasa tidak sanggup mengerjakan tema ini. Padahal narasumbernya sudah saya list, nomor kontaknya juga sudah saya pegang. Hanya saja butuh energi yang besar untuk mewawancarai para narasumber ini. Kesulitan saya jelas pada akses pada narasumber itu. Saya perkirakan dalam waktu 2 minggu belum tentu saja bisa menyelesaikan wawancara.

Ternyata keputusan adalah hal yang paling tepat. Keberuntungan saya berlanjut. Secara tidak sengaja saya mendapatkan tema yang tepat untuk dikerjakan. Ceritanya, sore itu dihari ketiga pelatihan saya membuat janji pertemuan dengan Aini, teman lama yang saya kenal ketika mengikuti pelatihan jurnalistik di Universitas Lampung pada 2005 lalu. Kami memang sudah tidak lama bertemu dan hanya berkomunikasi lewat telpon. Aini sekarang bekerja di Bank Danamon. Aini seorang yang ramah dan supel. Dia punya banyak relasi, juga punya banyak teman. Sewaktu kuliah dia aktif di pers kampus di Universitas Negeri Jakarta.

Kami mencari tempat yang enak di Plaza Sudirman. Obrolan demi obrolan pun berlangsung hangat. Saya ceritakan soal tugas yang diberikan dalam pelatihan. Ternyata Aini punya tema yang menarik. Dia usul soal kegiatan anak-anak senirupa yang tergabung dalam Serrum Art Jakarta yang punya kegiatan sosial bagi anak jalanan di Jakarta. Saya tertarik dengan tema ini.

Aini berbaik hati memperkenalkan saya pada Arman dan Gunawan. Keduanya adalah para pegiat di komunitas Serum. Lewat Gunawan saya dapat banyak informasi tentang rumah bambu, sebutan bagi program yang mereka bikin untuk anak jalanan. Nama ini kemudian saya ambil sebagai judul cerita. Saya berhasil menyelaikan semua wawancara yang saya rencanakan. Setelah semua lengkap, saya pun berhasil membuat cerita rumah bambu. Cerita ini saya selesaikan dalam sepekan.

Meski gembira, tapi ini baru tema pertama. Meski sudah berpikir keras tema kedua belum juga saya dapatkan. Suatu sore di saat sedang berbaring di hotel tempat saya menginap, saya teringat Aini. Saya hubungi Aini via sms. Saya katakan masih pusing dengan satu tema lagi. Beberapa saat telpon berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Aini mengatakan punya teman yang mengajar komik di Lapas Anak Tangerang. Saya kegirangan. Saya melompat-lompat di tempat tidur. Ini bakal jadi cerita yang menarik, begitu pikir saya.


Kongkow Bareng Gusdur, salah satu program talk show di kbr68h. Acara ini menghadirkan pembicara mantan presiden Indonesia Abdurahman Wahid yang siarkan secara langsung.

Aini berjanji malam itu juga akan mempertemukan saya dengan Maman, si pengajar komik di lapas anak Tangerang. Tapi masalahnya Maman tinggal di Depok. Aini lupa-lupa ingat kendaraan umum apa yang harus dipakai menuju rumah Maman. dia minta Maman untuk memandu lewat sms. Tapi dasar cewek nekad, hanya berbekal info yang sedikit itu Aini tetap saja mau pergi. Kami bahkan sempat salah naik busway. 2 jam kami di perjalanan. akhirnya sampai juga di Margonda Depok di tempat tinggal Maman. Karena sudah malam, sekitar jam 11, malam itu saya tidur di depok. Oleh Maman Aini diantar pulang dengan sepeda motor ke kostnya di Fatmawati Jakarta Selatan.

Besoknya saya dan maman berangkat ke Lapas Anak Tangerang Banten. Ini perjalanan yang cukup melelahkan. Maman membawa motor dengan kecepatan tinggi. Satu setengah jam baru sampai di Tangerang. Keberuntungan masih berda di pihak saya. Saya bisa masuk dengan mudah ke dalam Lapas anak tangerang dengan mudah, tanpa harus mengurus berbagai ijin yang berbelit-belit. Padahal biasanya butuh setidaknya 1 minggu untuk mengurus ijin liputan sana. Ini karena Maman sudah lama mengajar di sana. Dihitung-hitung sudah 3 tahun maman memberikan pelajaran membuat komik untuk penghuni lapas.

Saya mewawancarai beberapa anak. Ada Okan, Adi dan Hendra. Ketiganya adalah murid Maman. mereka mengaku sangat suka pelajaran membuat komik yang diajarkan oleh Maman. bagi anak-anak lapas itu menggambar komik bisa menghilangkan kejenuhan selama di penjara. Hendra, misalnya mengaku dengan menggambar setiap hari. Bila sedang rindu ibu, ia tuangkan dalam komik. Begitu pula bila ia sedang kesal.

Sementara okan menggambar pengalaman kenapa ia sampai masuk ke lapas. Ia mengaku menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Untuk materi wawancara anak-anak ini saya anggap cukup. Saya juga merekam suasana maman sedang mengajar. Yang paling berkesan ketika okan menyanyikan lagu anak penjara. Saya tersentuh.

Setelah semua lengkap, sore itu juga saya kembali ke hotel dan segera kembali ke kantor. Saya sudah tidak sabar mengerjakan tema kedua ini. Akhirnya saya bisa selesaikan tema ini dalam 4 hari. Saya beri nama cerita ini komik curhat. Tulisan saya diedit oleh Citra Prastuti, editor program Saga kbr68h. Saya tidak sempat mendengar hasil miksing feature ini karena keburu pulang ke Pontianak.


Di sela-sela pelatihan saya sedang duduk santai di Kedai Tempo, tepat di belakang gedung kbr68h. Di tempat ini sering diadakan berbagai diskusi yang menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai bidang. Kedai Tempo juga menjadi tempat bertemunya berbagai wacana Kindonesiaan

Beberapa minggu kemudian, Aini mengirim pesang singkat. Isinya mengabarkan bahwa ia sedang mendengarkan cerita Komik cuhat ini diputar oleh kbr68h. Menurutnya isi ceritanya bagus. Terima kasih Aini. Saya hanya bisa bersyukur.

Yang bikin senang, cerita ini ternyata diusulkan citra untuk mengikuti ajang penghargaan jurnalis terbaik oleh AJI Jakarta. Meski tidak lolos saya tetap senang. Ini adalah pengalaman kali pertama saya. Semoga nanti bisa bikin karya yang lebih bagus.

Bagi saya membuat berita feature radio adalah hal baru. Sebelumnya saya terbiasa bikin feature untuk cetak. Meski pada prinsipnya tidak ada yang perbedaan yang begitu mencolok antara feature cetak dan radio, namun bagi saya membuat feature radio terasa lebih sulit. Beberapa pengalaman teknik harus saya kuasai. Tidak hanya soal menulis, namun kemampuan khusus seperti penguasaan pada Adobe Audition atau Cool Edit Pro. Program ini penting untuk memotong-motong suara narasumber. Program ini juga penting untuk miksing hasil akhir liputan.

Saya juga baru mengenal program ini dan belajar secara otodidak beberapa waktu sebelum berangkat. Bekalnya adalah kenekatan belaka. Tapi dari kenekatan itu saya belajar banyak hal.()

Tuesday, March 25, 2008

Serginof Sang Penyair Gila

Oleh Heriyanto

Beograd hari itu lelah. Matahari yang panas membakar jalan-jalan. Tanah kering kerontang, daun-daun rontok berserakan di pelataran taman yang tak terawat di jalan Gravilla dekat Kota Tua. Di sanalah Serginof suka berkeliling, menyusuri jalan-jalan yang padat dengan kaki telanjang dan pakaian yang kumal. Pria yang aneh, yang tak memikirkan penampilannya meski orang-orang akan memandanginya dengan jijik layaknya memandangi kotoran. Orang-orang tak suka dengan baunya yang busuk itu. Sudah dipastikan mereka akan menutup hidung bila berpapasan dengannya. Atau bila masih bisa mereka akan menghindar dan mencari jalan yang agak jauh agar tak berpapasan dengan Serginof.

Namun sebaliknya anak-anak justru suka bila Serginof datang. Mereka akan tertawa cengengesan bila lemparan batu kerikil kecil yang dipungut dari pingggir-pinggir jalan mengenai badan Serginof. Batu kerikil itu leluasa bermain-main di tubuh Serginof yang ringkih. Serginof diam saja, tak menghiraukan. Sesekali dia meringis, meski begitu ia tak berniat mengejar anak-anak yang melemparnya seperti orang gila kebanyakan. Tapi begitulah Serginof setiap harinya. Besoknya Serginof akan lupa kejadian kemarin dan akan dengan santai melewati jalan yang sama. Ia memang tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Si Gila, begitulah orang-orang orang-orang komplek menjulukinya. Julukan itu sangat tepat untuk Serginof yang kumal, lecek, dan kotor. Tapi benarkah dia gila? Tapi adakah orang gila yang mampu menulis bait-bait syair yang indah? Sudah ribuan bait puisi yang ia buat. Puisi-puisi itu dikumpulkanya dalam kotak-kotak yang tertumpuk di sebuah gudang bekas penyimpangan bir bergambar orangtua berjenggot. Entah untuk apa Serginof terus saja menulis syair, tak ada yang tahu.

Sesungguhnya Serginof tak benar-benar gila. Ia hanya ingin bebas saja seperti orang gila kemana saja tanpa beban, tanpa terikat status sosial, dan tanpa aturan-aturan kemanusiaan yang selalu mengekang. Dia pun tak perlu membeli baju yang bagus atau yang sepatu mengkilat seperti yang selalu dibangga-banggakan Ayahnya si Brodus yang pongah. Tapi lebih dari semua itu Serginof ingin menjauh dari kehidupan yang pernah mengecewakannya.

Serginof muda adalah orang yang tampan, cerdas dengan bakat sastra yang luar biasa jenius dan berasal dari keluarga terhormat kelas atas. Serginof seorang sarjana lulusan Faculty Of Art yang mengambil spesialisasi pada syair-syair lama. Gaya hidupnya mentereng dengan pakaian yang selalu klimis dan rapi. Dengan penghasilan yang lebih dari cukup dari hasil royalty penulisan buku-bukunya yang laku keras di semua penerbitan ia bisa mendapatkan segalanya termasuk wanita yang cantik nan genit. Namun pilihan justru pada seorang gadis sederhana penjual buah di pinggir jalan Gravilla. Tapi malangnya gadis itu tewas tertabrak mobil pengangkut buku-buku puisinya pada hari yang sama saat ia ingin membacakan sebait puisi yang indah di depan gadis itu. Serginof lupa bahwa tak selamanya semua hal bisa dia dapatkan. Gadis itu bukan ukuran gadis yang bisa diterima keluarganya. Penjual buah tak pernah masuk dalam catatan – sesuai tradisi keluarga— untuk dijadikan sebagai menantu. Belakangan Serginof ketahui ayahnyalah yang merencanakan tabrakan itu.

Serginof terpukul. Hari-hari yang gelap yang ia tak mampu hadapi sebagai orang yang waras, sampai suatu ketika dia merasa terbebas sama sekali dari beban setelah memutuskan menjadi orang yang gila. Ia terbebas dari harta benda dan keinginan-keinginan orang yang waras. Satu-satunya barang miliknya hanyalah buku tulis berkover hijau lumut dan pena yang terbuat dari bambu yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Serginof akan lama diam mematung di pinggir Water Garden di Pusat Kota Tua memandangi patung lelaki telanjang di tengah air mancur yang dari kemaluannya mengucur air yang gemericik. Dia suka dengan bunyi gemericik itu. Lebih suka dari musik klasik yang dulu sering diputar dikeluarganya sebagai penanda kehormatan keluarga kelas atas.
Serginof suka menulis-nulis sesuatu di buku catatan berkover hijau lumut itu.

Dibacanya kembali tulisan yang ia buat dengan suara yang lirih. Diejanya satu persatu, dicoretnya kalimat yang tak sesuai, dan diganti dengan kata-kata yang baru. Sesekali dijentik-jentikanya kertas yang baru saja ia tulis seperti anak kecil yang sedang menggambar. Dia akan senang kegirangan, memutar-mutar tubuhnya seperti kincir angin, dan tertawa sekeras mungkin, bila tulisan itu sudah mengena di hatinya.

Entah mengapa ia selalu merasakan kesenangan menjadi orang yang gila. Dia akan mengawasi kehidupan orang-orang yang waras dan kemudian mencatatnya menjadi sebuah bait syair yang sarkas. Kadang juga ia ingin membuat catatan-catatan yang indah dari berita-berita pembunuhan yang selalu ia baca dari koran-koran kriminal yang ia dapatkan secara cuma-cuma dari tong-tong sampah. Dengan begitu dia bisa menyelami banyak hal kecil dan mungkin sepele yang tak diperhatikan orang yang waras.

Baginya orang-orang yang waras justru orang yang gila dan tak punya moral ketimbang orang yang benar-benar gila. Orang-orang berpakain seragam yang selalu tampil dengan tampang galak itu selalu mengejar-ngejarnya ingin menangkapnya. Suatu siang yang panas dia berhasil tertangkap juga oleh petugas ketertiban kota yang kemudian mengangkutnya dengan sebuah truk terbuka. Serginof mencoba lari, tetapi tertangkap lagi. Ia dipukuli berkali-kali. Tapi beruntung di sebuah belokan yang sepi ketika para petugas itu lengah Serginof berhasil melarikan diri.

Serginof lari jauh-jauh dari kota, pindah ke tepi sebuah danau yang tak berpenghuni yang terbebas dari para petugas ketertiban. Ia duduk di bawah pohon rindang, menyandarkan badannya pada batang pohon. Wajahnya Tampak letih dan kusam dengan rambut yang acak-acakan tak pernah disisir. Napasnya ngos-ngosan seperti sapi yang lehernya dijerat tali. Matanya nanar yang kosong memandang ke danau yang berlumut.

Tangan kanan Serginof yang kasar itu memegang pulpen sementara tangan kirinya memegang buku catatan berkover hijau. Disentil-sentilnya pulpen bambunya dengan ujung jarinya untuk menurunkan tinta agar mudah menulis. Selanjutnya ia semakin tak peduli pada dunia. Dia tenggelam dalam dunia sunyi, dunia yang indah dan bebas. Dia kini menjadi Gila. Benar-benar gila.[]

Wednesday, January 30, 2008



Saya (kiri) menjadi moderator dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura tentang persoalan beasiswa di lantai 3 gedung Rektorat Untan. Hadir sebagai pembicara Mantan Ketua Bem Untan Galih Usmawan, Kepala kesejehteraan mahasiswa Ishack saleh, pembantu rektor III Dr Edy Suratman, dan kabag kemahasiswaan Untan Suyono Sadeli

Monday, January 7, 2008

Awak redaksi Mimbar Untan bersama Andreas Harsono



MImbar Untan mendapat kehormatan bisa berdiskusi tentang jurnalisme bersama wartawan senior Andreas Harsono dari Pantau. Dari kiri ke kanan: Heriyanto, Andreas Harsono, Henny Kristina, Eka Setiawati, Iskandar, Siti, Teti, Deddy Armayadi, Mbak Ari, Mbak Ipit. (Bawah) Tina, Ripal, Aini Sulastri, dan Nina.